Sebagai program primetime, menurut saya OK-JEK memiliki banyak keunggulan, diantaranya: Pertama, konsistensinya adegan opening dengan monolog yang terus terjaga sejak episode pertama. CIri khas yang kuat seperti ini menurut saya sebagai lambang bahwa OK-JEK adalah acara yang memiliki pola narasi yang kuat, sehingga mudah diingat dan ditunggu-tunggu oleh para pemirsanya. Kedua, Kandungan pesan-pesan dengan semangat baik untuk masyarakat, seperti konsistensi dalam kampanye safety riding dan pada tiga episode terakhir disisipi kampanye anti narkoba. Pesan-pesan seperti ini menunjukkan bahwa sebagai bagian dari televisi masa kini, OK-JEK turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Terlebih OK-JEK yang notabene adalah sitkom dengan tema besar komedi, pemberian pesan sederhana menunjukkan bahwa OK-JEK juga memberikan ilmu. Ketiga, scriptwriting yang kuat dan berkualitas. Terlebih ditiga episode terakhir (354-356) cerita yang diawali dengan kisah terpisah (Shelly antar barang, Beta lagi bersihin rumah, dan Seno lagi nganterin ibu-ibu) kemudian bertemu di satu lokasi dan menjadi cerita yang saling berkelindan menurut saya merupakan suatu kecerdasan yang hakiki dalam penyusunan narasi.

Saya juga menyempatkan melihat beberapa episode awal dari OK-JEK. Terlihat banyak sekali peningkatan baik dari bidang teknis maupun narasi. Terlihat pada episode awal, color grading masih terlalu ungu di beberapa tempat, warna kulit yang masih kurang presisi juga terjadi. Untungnya tidak butuh waktu lama untuk meningkatkan kualitas bagi kru OK-JEK di bagian ini. Terlebih pada bagian shot ketika driver sedang mengendarai motor di jalan. Sangat terasa ada peningkatan kualitas di situ. Terlepas dari kualitas yang meningkat, sebenarnya hingga saat ini saya masih penasaran, apakah pada saat take adegan mengendarai motor ini camera person dalam kondisi aman? Karena terkadang saya takut jika membayangkan bagaimana campers mengambil adegan ini dengan posisi duduk menghadap ke belakang di boncengan motor. Menurut saya akan menjadi ironi jika OK-JEK sebagai acara yang mendukung safety riding kurang menjaga keselamatan krunya sendiri—semoga kekhawatiran saya hanya kekhawatiran semu yang tidak perlu-.

Selanjutnya, menurut saya kekuatan dan kecerdasan tingkat scriptwriring bisa menjadi pedang bermata dua. Menjadi dilema yang sama bagi mungkin sebagain besar produsen acara ‘cerdas’ seperti acara-acara di NET. Mengambil pengalaman dari lingkar rumah saya sendiri, bapak saya lebih memilih menonton tukang ojek sebelah daripada OK-JEK dengan alasan tukang ojek sebelah tidak perlu ditonton secara serius, dengan jokes-jokes sederhana yang selesai di satu segmen dan bisa ditonton disambi dengan bermain handphone. Tentu saya tidak bermaksud untuk mendukung pembodohan atau menyarankan untuk menurunkan tingkat kecerdasan script. Dengan pengalaman saya yang seumur jagung ini justru bekerja bersama tim OK-JEK menurut saya akan menjadi tempat belajar. Saya berharap kedepan akan terjadi diskusi-diskusi yang kemudian akan menjabarkan, bagaimana berproses, membungkus imajinasi dan idealisme kita dengan kreatifitas, sehingga kita bersama tetap bisa menyajikan tayangan cerdas dan menghibur.

Panjang umur kreatifitas!

 

 

Baharuddin Robbani

Jakarta,16 Mei 2017

Iklan

Memangnya aku lucu

kenapa jadi aku

beberapa mata ragu tertuju padaku

siapkah aku

sudah saatnya untuk membuktikan

apa yang bisa kau lakukan

cerah semoga masa depan

penuh cahaya dan harapan.

Sudah seharusnya kita bersyukur untuk segala hal yang telah kita lalui.

Untuk hal hal sederhana yang terjadi sehari-hari.

Seperti hari ini.

Ketika aku mengambil uang di Anjungan Tunai Mandiri.

 

Uang bukannya berkurang malah bertambah.

Kukira orangtuaku melihatku susah lalu ditambah jatah.

Rupanya perkiraanku salah.

Ternyata menghutangi orang bisa jadi berkah.

 

Sebagai professional procrastitor ini akan menjadi sulit bagi kita. Menentukan skala prioritas. Ada dua alat pengukur disini yaitu yang PENTING dan URGENT, mana yang seharusnya didahulukan?

  1. PENTING -TIDAK URGEN : THE ZONE
  2. PENTING-URGEN : DEMAND
  3. TIDAK PENTING- URGEN : ILLUSION
  4. TIDAK PENTING TIDAK URGEN : ESCAPE

Seandainya kita selalu bergerak di THE ZONE dengan perencanaan dan penjadwalan yang baik maka kita tidak akan jatuh ke lembah DEMAND. Hal yang tidak penting tapi menjadi mendesak adalah ILUSI, mengapa? karena itu hanya ada dalam pikiran kita. Jika kita bisa mengendalikan pikiran kita, kita dapat melaksanakannya dengan tenang dan dengan hasil yang lebih maksimal. Karena ketergesa-gesaan hanya akan berujung pada hasil yang kurang memuaskan (kadang-kadang ngga juga sih) dan persiapan yang matang akan berujung pada hasil yang memuaskan (seharusnya). But ya pada akhirnya kita terlalu banyak menghabiskan waktu di zona ESCAPE, ya kan?

Do not expect extraordinary result if you only do ordinary effort.

-Wishnutama

9 tahun yang lalu, di Assalaam.

Kami, Koordinator Gerakan Pramuka sedang dalam masa krisis karena jadwal lomba semakin dekat dan kami merasa persiapan kami masih sangat kurang. Masih banyak hal yang masih belum disiapkan. Masih banyak kekurangan baik dalam hal pemberkasan maupun latihan per bidang masing-masing.

Siang itu seorang alumni datang, namanya Kak Buyung, orang Bontang. Ia diundang untuk mengisi sebuah seminar motivasi untuk OP3MIA (semacam OSIS) di komplek putri. Dengan permintaan kami dan kebaikan hatinya akhirnya ia menyempatkan untuk memberi waktunya sekitar satu sampai dua jam untuk mendatangi kami, tim lomba.

Seperti seminar-seminar motivasi biasanya kami diberi tontonan tentang orang-orang dengan kekurangan fisik yang mampu memenangi lomba ini dan itu. Pada sesi selanjutnya kami diminta berbaris dua shaf dan mengambil jarak dengan merentangkan tangan. Kami diminta untuk memejamkan mata dan mengambil pose vampir cina dengan kedua tangan diarahkan kedepan.

Kami diminta untuk membayangkan tangan kami yang kanan digantungi balon sehingga terasa ringan. Sementara tangan kiri kami digantungi beban yang berat. Selanjutnya, kami diminta untuk membayangkan bahwa balon dan beban yang digantungkan di tangan kami makin banyak sehingga tangan kanan makin terangkat dan tangan kiri makin jatuh kebawah. Singkat cerita ternyata praktik ini digunakan untuk memilih siapa yang ‘fantasi’ nya kuat. Dan saat itu aku terpilih.

Aku diminta berbaring diantara tiga kursi, satu di ujung kepala, satu di bawah pantat dan satu di ujung kaki. Aku diminta berbaring lurus dan memejamkan mata. Singkat cerita dibawah kuasa kata-kata Kak Buyung, aku diminta untuk membayangkan bahwa tubuhku sedang dimasuki batangan besi, dari ujung kepala sampai ujung kaki. besi itu kemudian ditambah dan ditambah, sehingga tubuhku kaku dan mengeras. makin lama makin keras dan makin berat. Kursi dibawah pantatku disingkirkan, aku tidak jatuh.

Kak Buyung mengetuk ujung kepalaku untuk menambahkan batangan besi lagi. Kali ini teman-temanku diminta untuk mengangkat tubuhku, awalnya dua orang, tidak kuat, ditambah lagi, empat orang, masih tidak kuat, ditambah lagi jadi enam orang, masih juga belum kuat. Besi-besi dikeluarkan, aku jatuh terduduk dan satu orang temanku saja cukup kuat untuk menggendongku.

***

Dari momen itu, aku, kami percaya bahwa apapun bisa terjadi, apapun bisa dicapai jika kita sanggup mengendalikan diri kita, mengendalikan fikiran kita. Mental juara itu ada dan nyata. Kita bisa menghidupinya jika kita percaya.

***

Kami akhirnya dapat Juara Umum III dari target awal asal berangkat aja.

 

 

Mengambil peran adalah pilihan.

Enam tahun yang lalu seorang teman baru memperkenalkan diri dengan nama Suci Marini. Ingat sekali saat itu orientasi mahasiswa baru sedang berlangsung dan pemandu kami bertanya, “apa tujuan kalian masuk komunikasi?” Suci menjawab:

“Aku ingin didengar.”

Tiga setengah tahun kemudian ia menjadi lulusan tercepat di angkatan, dengan segudang prestasi dan pengalaman organisasi.

Diam pun adalah pilihan.

Lima tahun yang lalu kami menjadi panitia sebuah acara kemah kampus. Kami bermalam di daerah yang dingin. Pagi itu, kami mencoba menghangatkan diri dengan berbincang satu sama lain. Mengeluarkan gurauan-gurauan sederhana sekedar agar kami bisa tertawa bersama dan menghangatkan diri. Di sela gurauan itu tiba-tiba salah satu dari kami melangkah pergi, menuju ke lapangan. Ternyata ada seorang teman lain yang sedang bekerja dikejauhan merapikan sisa acara semalam yang membuat lapangan berantakan. Adam Ramdhani namanya. Tanpa bicara, hanya diam, namun aksinya menggerakkan. Menggerakkan kami yang mungkin terlalu banyak bercanda.